DIantara Dua Pilihan

*** pada tahun 2005 yang silam, setelah saya lulus dari sekolah dasar (SD) saya dan ayah saya mendapat kiriman berupa surat dari nenek saya yang tinggal di pantai barat ( Desa sabang ) itu, pesanya dari surat tersebut itu adalah memanggil saya untuk sekolah di sana.

Setelah berapa minggu dari waktu pengiriman surat itu, saya dan ayah langsung membicarakan kembali tentang isi surat tersebut.

Saya langsung bertanya pada ayah saya “ ayah saya ini bagaimana mau sekolah di sana atau bertahan di sini ? ujarku sambil menatap mata ayah saya yang serius mendengarkan saya bertanya padanya “

Lalu ayah saya menjawab “ iya naa kamu sekolah saja di sana” kalau kamu di sini mungkin kamu tidak sekolah’ ujarnya sambil mengusap ngusap kepala saya”

 Setelah hari katiga dari itu ayah berkata ‘ naa kita berangkat besok ‘ dan saya pun langsung memeluknya erat erat ayah saya ‘ sambil berkata ayah jagan ayah selalu kerja yang berat karna ayah itu sudah tua dan jaga kesehatan ‘ lalu ayahku berkata ‘iya naa,di sana jangan nakal kalau di bilang orang satu kali jangan melawan yah, masih mengusap ngusap kepala saya “

Di samping saya ada ibu saya yang sedang duduk sambil meneteskan air mata juga dan saya berkata “ ibu tidak usah ibu khwatir saya bisa jaga diri semua apa yang di bilang ayah dan ibu itu saya akan dengar, ujar saya sambil memeluk dan mencium tangan ibu saya .

Keesokan harinya tepatnya hari kamis pukul 10 :15 wita, saya dan ayah saya langsung menuruni rumah, sebelum saya menuruni rumah saya terlebih dahulu mencium tangan ibu saya sebagai doa dan sebagai tanda terima kasih.
dan di depan rumah sudah sekian menit mobil menunggu saya dan ayah saya,

Di perjalanan saya masih kepikiran ibu saya, tapi saya selalu tegar melawan pikiranku karena tujuan saya buat ibu saya juga…

 Dan pada waktu itu saya belum tau apa apa tentang ke adaan desa itu.                                                   Di dalam perjalanan saya penuh kegelisahan dan bertanya tanya ‘apaka saya bertahan di sana atau mala sebaliknya’ pikirku sambil melihat lihat pemandangan sepanjang jalan’

“Kalau saya masih bertahan di kampung kemungkinan besar  saya tidak akan sekolah karena saya terlahir dari keluarga yang kurang mampu.” Pikirku,

 Tapi saya tidak pernah putus asah dalam menyikapi hal seperti itu karena saya tahu saya juga bisa seperti orang yang lain yang bisa sekolah tinggi dan bisa membahagikan kedua orang tua.

 ” sekitar pukul 22 :15 wita,  saya dan ayah saya tiba di desa tersebut di mana saya akan di sekolahkan, saya pun langsung menuju rumah nenek saya dan kebetulan pada saat itu nenek saya sedang asyik mengaji di depan rumah .

 ” asyik berbincang bincang  tentang perjalanan dari kampung. tiba tiba ada seorang ibu keluar dari arah dapur dengan membawa dua buah gelas yang berisikan teh manis dan angat dan pada saat itu juga gerimis hujan.,

 ” sebelum istrahaat nenek saya memberi tahu saya bahwa besok pagi kita pergi jalan jalan melihat Danau.” ujarnya sambil merapikan bukunya

 ” esok paginya  saya pun langsung pergi mandi dan itu saya mengganti pakaian saya lalu saya bersama nenek saya pergi melihat danau di desa Talaga itu , jarak dari desa sabang sekitar  2 km, saja

” tidak terasa saya sudah menjelang empat hari di sini. ” ujarku sambil menole ke arah pantai,

” setelah beberapa menit nenek saya memberi tahu saya kalu sebentar kita pergi membeli seragam sekolah (SMP) ” katanya sambil mencukur kumisnya.’

” pagi tepatnya hari senin saya sudah siap untuk berangkat ke sekolah, saya di anat oleh nenek saya dan saat itu juga dia menjabat sebagai Kepsek di sekolah . saya pun langsung mengikuti mata pelajaran bersama teman teman.

 ” di hari kedua saya sekolah saya selalu semangat untuk mengikuti pelajaran bersama teman seprti biasanya.

 ” dan di hari ketiga, pada waktu pulang sekolah sesampainya di rumah aku bertanya dalam hati’ ko sepi ‘ saya pun langsung bertanya dengan nenek saya ” nek mana ayah saya ” nenek menjawab dengan suara kecilnya ” ada apa nak ” ? saya pun mengabaikan tanyanya itu,, saya pun balik tanya ” nek ayah saya mana ” terus nenek menjawab ” ayah kamu sudah pulang nak” sambil memasang bajunya.

 ” dan saya pun langsung masuk kamar dengan wajah yang murung “sedih” dan berkata dalam hati ” hati hati di jalan ayah” terima kasih ayah . . . .

 

“jadi hargailah pemberian orang lain, selagi kita masih di beri kesempatan untuk menghargainya “

Dedhy kurniawan  ” Masih belajar dan masih terus belajar “

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s