Hujan

 

Dingin perlahan – perlahan menghampiri di kesunyian di malam itu.

 upik yang duduk di sehelai kain itu sudah kelihatan pucat, seperti isi buah kelapa yang masih muda.

“ Upik kenapa ?” tanya Muli. “ saya tidak kenapa – kenapa ?” jawab Upik. “ ooh, begitu iya iya .” ujar Muli.

Hujan pun perlahan – perlahan mulai mengeluarkan suara yang begitu besar, dan itu  tandanya hujan malam ini akan turun begitu derasnya.

   Upik pun tidak membiarkan tubuhnya yang begitu kecil di landa kedinginan yang terus menerus, dia pun langsung mengambil inisiatif agar dia tidak kedinginan lagi.

“ bapak mau kemana ?” tanya Anto. “ saya mau mengambil jaket saya yang ada di kamar sebelah.” Ujarnya. “ ohh, begitu .” ujar Anto.

“ado masih tetap juga dingin lee.”kata Upik.  “nanti pakai apa ini baru dingin ini hilang . “ lanjut Upik.  Tanpa sengaja Anto mendengar kata dari Upik tadi . Anto pun melontarkan sedikit kata yang isinya sedikit mengandung humor.

“ pakai  kasur yang tebal saja.hahahahahahahahaha.” kata Anto. Sambil menyalakan lilin yang tinggal sepotong itu.”

“ hahahahahahaha, kau kira saya seperti kau, yang biasanya kalau dingin pakai kasur.” Jelas Upik. Sambil mengusap sedikit lendirnya yang sedang menuruni dagunya.” Bercanda teman.” Kata Upik. “ iya iya saya juga cuman bercanda .” ujar Anto.

Malam semakin larut. suara – suara yang tadinya begitu jelas kedengaran, kini hilang dalam waktu yang sekejap saja. Dan hujan pun sudah mulai mengeluarkan suara kecilnya. Itu pertanda bahwa hujan akan berhenti.

“ Anto, kau mau kemana ?” tanya Upik. “ mau tidur” kata Anto. “ mungkin dengan tidur, dinginku akan hilang. Karena saya juga dari tadi ini sudh dingin sekali.” lanjut  Anto. “ ohh, iya iya “ ujar Upik.

    Waktu menunjukan pukul 03.15 wita. Dan sebentar lagi akan pagi. Upik masih tetap bertahan di tempat duduknya, sambil melihat – melihat lilin yang nyalahnya tidak begitu terang.

“ Upik,kau tidak mau tidur ?” tanya Muli. “ ahh, tidak. “ jawab Upik. “ tanggung kalau tidur, soalnya pagi tidak lama lagi. Jadi untuk apa tidur .” lanjut Upik. “ohh, iya.” Ujar Muli. “ Tapi,kau harus jaga juga kesehatanmu. Jangan sampai hanya karena bergadang begini, kau jatuh sakit.” Lanjut Muli. “ iya. Makasi atas saranya Mul.” Kata Upik. “ iya. Sama – sama Pik.” Ujar Upik.

   Tidak terasa waktu sudah menunjukan pukul 05.54 wita. Muli pun tidak lupa dengan kebiasaanya. Yang   setiap paginya ia selalu memanaskan mesin motor kesayanganya itu.

    Upik pun tak mau kalah juga dari Muli. Upik pun langsung mengambil sapu yang ada di balik pintu dekat Muli memanaskan motornya.

“ hamaaaa, banyak sekali ini sampah e .” kata Upik. “ apa boleh buat ini sudah menjadi  resiko kalau punya pohon di halaman. Jadi di bersihkan saja.”lanjutnya.

   Selesai memanasaan motor kesayanganya. Muli pun langsung menuju ruang dapur dan langsung memanaskan air.

“ kasih banyak memang airnya di masak , soalnya saya juga suka minum kopi.” Kata Upik. “ iya, banyak juga saya masak ini pik.” Ujar Muli. “ ok, ok sipp sipp “ ujar Upik.

    Sang surya mulai menampakan wajahnya sedikit demi sedikit . Seperti anak – anak yang sedang  bermain petak umpet yang mengintip temannya yang sedang mencarinya.

    Seperti biasanya,  kalau sudah jam 07.30 wita. Upik, Muli, dan Anto. Mereka bertiga itu mahasiswa yang rajin pergi ke kampus.

Dan mereka berpisah di pagi itu. Untuk melakukan aktivitas mereka masing – masing.

 Tapi, ada juga sebagian teman – teman lainya masih menikmati tidurnya yang begitu menyenangkan bagi mereka.

Sungguh indahnya saat itu. Canda,tawa dan sedih sudah di nikmati kami bersama.

Tetap semangat teman – teman .

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s